PEMBAHASAN
Kalau ada negeri
Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan bangsa Mongol, baik
serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah Mesir yang
ketika itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamalik. Karena, negeri ini terhindar
dari kehancuran, maka persambungan perkembangan peradaban dengan masa klasik
relative terlihat dan beberapa di antara prestasi yang pernah dicapai pada masa
klasik bertahan di Mesir. Walaupun demikian, kemajuan yang dicapai oleh dinasti
ini, masih di bawah prestasi yang pernah dicapai oleh umat Islam pada masa
klasik. Hal itu mungkin karena metode berpikir tradisional sudah tertanam
sangat kuat sejak berkembangnya aliran teologi Asy’ariyah, filsafat mendapat
kecaman sejak pemikiran Al-Ghazali mewarnai pemikiran mayoritas umat Islam dan
yang lebih penting lagi adalah karena Baghdad dengan fasilitas-fasilitas
ilmiahnya yang banyak memberi inspirasi ke pusat-pusat peradaban Islam hancur.[1]
A. Sejarah Terbentuknya Dinasti Mamluk
Sebutan Mamluk bermakna
hamba sahaya. Hal ini disebabkan para panglima yang memegang kekuasaan
ketentaraan dewasa itu berasal dari hamba sahaya yang dibeli lalu diasuh
semenjak kecil dan dilatih, terdiri atas berbagai keturunan kebangsaan. Mereka
menjadi pejuang-pejuang Islam yang perkasa.[2]
Mereka pada mulanya
adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah sebagai budak,
kemudian didik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok
tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Oleh penguasa Ayyubiyah yang
terakhir, Al-Malik Al-Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin
kelangsungan kekuasaannya. Pada penguasa ini mereka mendapat hak-hak istimewa,
baik dalam karier ketentaraan maupun dalam imbalan-imbalan material.[3]
Ketika Al-Malik Al-Salih
meninggal (1249 M), anaknya Turansyah naik tahta sebagai sultan. Golongan
Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi
daripada mereka. Pada tahun 1250 M, Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars
berhasil membunuh Turansyah. Istri Al-Malik Al-Salih, Syajarah
Al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil
kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik. Kepemimpinan
Syajaruh Al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan
seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan
kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa di belakang tabir. Akan tetapi
segera setelah itu Aybak membunuh Syajaruh Al-Durr dan mengambil sepenuhnya
kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak mengangkat seorang keturunan penguasa
Ayyubiyah bernama Musa sebagai Sultan Syar’I (formal) di samping dirinya
bertindak sebagai penguasa yang sebenarnya. Namun, Musa akhirnya dibunuh oleh
Aybak. Ini merupakan akhir dari dinasti Ayyubiyah di Mesir dan awal dari
kekuasaan dinasti Mamalik.[4]
Kaum Mamluk berkuasa
di Mesir sampai tahun 1517 M. merekalah yang membebaskan Mesir dan Suria dari
peperangan Salib dan juga membendung serangan-serangan kaum Mongol di bawah
pimpinan Hulagu dan Timur Lenk, sehingga Mesir terlepas dari
penghancuran-hancuran seperti yang terjadi di dunia Islam lain.[5]
B. Kerajaan Mamluk di Mesir
Kerajaan Mamluk di
Mesir sebenarnya terbagi menjadi dua periode, yang berdasarkan daerah asalnya.
Yakni golongan pertama adalah Mamluk Bahari/ Bahriah yang berkuasa mulai tahun
648 – 792 H/ 1250 – 1389 M. yang mereka berasal dari kawasan Kipchak (Rusia
Selatan), Mongol dan Kurdi. Golongan kedua adalah Mamluk Burji/ Barjiyah yang
berkuasa mulai tahun 792 – 923 H/ 1389 – 1517 M. mereka berasal dari etnik
Syracuse di wilayah Kaukasus.
1)
Mamluk Bahri (648 –
792 H/ 1250 - 1389 M)
Mamluk Bahri mereka
melaksanakan kudeta bermarkas di kota Benteng terletak pada sebuah pulau di
sungai Nil di depan kota Kairo. Saingan mereka dalam ketentaraan masa itu
adalah tentara berasal dari suku Kurdi.
Sultan-sultan Mamluk
Bahri yang terkenal adalah Quruz, Baybars, Qalawun, dan Nasir Muhammad bin
Qalawun adalah Sultan Qutuz (Qathaz) (657 H./ 1258 M.) dengan bantuan panglima
perangnya, Baybars berhasil mematahkan serbuan bangsa Mongol ke
Palestina dalam peperangan Ain Jalut pada tanggal 3 September
1260. Kemenangan ini merupakan balasan terhadap bangsa Mongol yang sebelumnya
menghancurkan Baghdad sebagai pusat khilafah Islam tahun 1258 H.[6] Setelah
kemenangan ini, nilai tambah terhadap dinasti Mamluk adalah bersatunya kembali
Mesir dan Syam di bawah naungan Sultan Mamluk setelah mengalami perpecahan pada
masa sultan-sultan keturunan Salahuddin Al-Ayyubi.
Tidak lama setelah
itu, Qutuz meninggal dunia. Baybars, seorang pemimpin militer yang tangguh dan
cerdas yang diangkat oleh pasukannya menjadi sultan. Ia adalah sultan terbesar
dan termasyur diantara 47 sultan Mamluk. Ia pula dipandang sebagai pembangun
dinasti Mamluk. Baybars mampu berkuasa selama 17 tahun (657 H – 676 H/ 1260 M –
1277 M). Kejayaan yang diraih pada masa Baybars adalah memporak-porandakan
tentara salib disepanjang laut tengah, Assasin di pegunungan Siria, Cyrenia.
Terlebih lagi prestasi Baybars adalah menghidupkan kembali kekhalifahan
Abbasiyah di Mesir setelah Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol.
Pemerintahan Mamluk
selanjutnya dipimpin oleh Bani Bibarisiah. Tidak begitu banyak yang berarti
kerajaan Mamluk di bawah pimpinan Bani Bibaris adalah Sultan Al-Mansur Qalawun
yang telah menyumbangkan jasanya dalam pengembangan administrasi pemerintah,
perluasaan hubungan luar negeri untuk memperkuat posisi Mesir dan Syam di jalur
perdagangan Internasional.
Sultan Mamluk yang
memiliki kejayaan dan prestasi lainnya dari garis Bani Qalawun adalah putra
pengganti Qalawun, yakni Nashir Muhammad (696 H/ 1296 M). Sultan memegang
tampuk pemerintahan selama tiga kali dan mengalami dua kali turun tahta.
Berakhirnya Mamluk
Bahri disebabkan oleh Sultan Shalih Haji bin Sya’ban (1381 – 1309) yang masih
kecil dan hanya memerintah selama dua tahun. Setelah itu, diganti oleh sultan
lain sampai akhirnya Sultan Barquq menguasai dan mengakhiri Dinasti Mamluk
Bahri.
2)
Mamluk Burji (792-923
H./1389-1517 M.)
Setelah berhasil
mengulingkan sultan terakhir dari Mamluk Bahri sultan Barquq mulai berkuasa
yang diawali dengan mulainya masa pemerintahan Mamluk Burji.
Sesungguhnya tidak
ada perbedaan pemerintahan Mamluk Bahri dan Burji, baik dari segi status para
sultan yang dimerdekakan ataupun dari segi sistem pemerintahan yang oligarki.
Hal-hal yang membedakan kedua pemerintahan tersebut adalah suksesi pemerintahan
Mamluk Bahri lebih banyak terjadi dengan turun-temurun, sedangkan pada masa
Mamluk Burji suksesi lebih banyak terjadi karena perang saudara dan huru-hara.
Pertentangan ini disebabkan sistem pendidikan bagi para Mamluk tidak ketat, dan
mereka diperbolehkan untuk tinggal di luar pusat-pusat latihan bersama rakyat
biasa.
Pemerintahan
selanjutnya dipimpin oleh Sultan Al-Nashir Faraj (801 H/ 1399 M – 808 H/ 1405
M) putera Sultan Barquq. Pada masa itu tampaknya Timur Lenk mengulang kembali
sejarah keberingasan pasukan Mongol pada zaman Hulagu Khan ketika menguasai
wilayah-wilayah tetangganya yang muslim. Pasukan Mamluk pun menyiapkan diri
untuk menghadang serangan Timur Lenk tersebut. Pada tahun 1401, Aleppo dapat
dikuasai oleh pasukan Timur Lenk dan disusul dengan Damaskus yang menyerah
setelah tentara Mamluk dapat dikalahkan. Kota Damaskus dibumihanguskan, baik
sekolah maupun mesjid dibakar.
Sementara itu, dua
Sultan Mamluk Burji, yakni Al-Asyraf Baibai (825 H/ 1422 M – 841 H/ 1437 M) dan
Al-Zahir Khusyqadam (865 H/ 1461 M – 872 H/ 1467 M) masih harus terus
mempertahankan wilayahnya dari serangan pasukan Salib di Kepulauan Cypus dan
Rhodos (Laut Aegea, sekarang milik Yunani). Kedua ekspedisi militer ini
berhasil menahan kekuatan kaum Nasrani dan dengan demikian, pasukan Mamluk
kembali membuktikan keunggulannnya untuk dapat menguasai jalur perdagangan di
Laut Tengah.
Banyak dari
sultan-sultan Mamluk naik tahta pada usia muda. Hal ini menjadi salah satu
faktor melemahnya dinasti Mamluk. Dan juga terjadi penyerangan pasukan Turki
Usmani terhadap wilayah Mamluk yang merupakan cikal bakal permusuhan antara
dinasti Mamluk dan Turki Usmani.
Sultan terakhir dinasti
Mamluk Burji adalah Al-Asyraf Tumanbai. Ia adalah pejuang yang gigih. Namun
pada saat itu dia tidak memperoleh dukungan dari golongan Mamluk sehingga ia
harus menghadapi sendiri pasukan Turki Utsmani yang pada akhirnya Tumanbai
ditangkap oleh pasukan Turki Utsmani dan kemudian digantung disalah satu
gerbang di kota Kairo. Sejak itulah berakhirlah pemerintahan dinasti Mamluk dan
dimulainya masa penguasai Turki Utsmani.[7]
C. Karya-karya serta kemajuan pada Dinasti Mamluk[8]
1)
Bidang
Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, dinasti Mamluk membuka
hubungan dagang dengan Perancis dan Itali melalui perluasan jalur perdagangan
yang sudah dirintis oleh dinasti Fatimiyyah di Mesir sebelumnya.
Disamping itu, hasil pertanian juga
meningkat. Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan
jaringan pengangkutan dan komunikasi antara kota, baik laut maupun darat.
Keteguhan angkatan laut Mamalik sangat membantu pengembangan ekonominya.
2)
Bidang
Pembangunan
Dinasti Mamalik juga banyak mengalami
kemajuan di bidang pembangunan. Banyak juru bina dibawa ke Mesir untuk
membangunkan sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan
lain yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah, rumah sakit, museum,
perpustakaan, villa-villa, kubah, dan menara masjid.
Situs yang dapat dilihat sampai
sekarang dari dinasti Mamluk yaitu Masjid Qal’ah (Benteng) yang berada di
Yerussalem. Masjid yang dibangun oleh Sultan al-Nashir Muhammad bin Qalawun,
salah satu penguasa Dinasti Mamluk ini pada 1310 M, kini diubah menjadi Museum
Benteng Dawud oleh Zionis Israel setelah direbut dari rakyat Palestina pada
Perang 1967. Lokasi situs bersejarah ini terletak di dalam benteng kawasan
kampung lama, Yerussalem, di Perempatan Armenia.[9]
3)
Bidang
Ilmu Pengetahuan
Di dalam ilmu pengetahuan, Mesir menjadi
tempat pelarian ilmuan-ilmuan
asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, ilmu ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, perobatan, astronomi, matematika, dan ilmu agama.
Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn
Taghribardi, dan Ibn Khaldun. Di bidang astronomi dikenal nama Nasir Al-Din
Al-tusi. Di bidang perubatan pula, Abu Hasan `Ali Al-Nafis. Sedangkan, dalam
bidang ilmu keagamaan, tersohor nama Ibn Taimiyah, Al-Sayuthi, dan Ibn Hajar
Al-`Asqalani.
4)
Bidang
Militer
Pemerintahan dinasti ini dilantik dari
pengaruhnya dalam militer. Para Mamluk yang dididik haruslah dengan tujuan
untuk menjadi pasukan pendukung kebijaksanaan pemimpin. Ketua Negara atau
sultan akan diangkat di antara pemimpin tentera yang terbaik, yang paling
berprestasi, dan mempunyai kemampuan untuk menghimpun kekuatan. Walaupun mereka
adalah pendatang di wilayah Mesir, mereka berhasil menciptakan ikatan yang kuat
berdasarkan daerah asal mereka.
Dinasti Mamalik juga menghasilkan buku
mengenai ilmu militer.Minat para penulis semakin terpacu dengan keinginan
mereka untuk mempersembahkan sebuah karya kepada para sultan yang menjadi
penguasa saat itu.Perbahasan yang sering dibahas adalah mengenai seluk-beluk
yang berkaitan dengan serangan bangsa Mongol. Pada lingkungan ketenteraan
Dinasti ini, menghasilkan banyak karya tentang ketenteraan, khususnya keahlian
menunggang kuda.
5)
Bidang
Budaya Politik
Daulah Mamalik atau Dinasti Mamluk membawa
warna baru dalam sejarah politik Islam. Pemerintahan dinasti ini bersifat
oligarki militer, Bentuk pemerintahan oligarki militer adalah suatu bentuk
pemerintahan yang menerapkan kepemimpinan berdasarkan kekuatan dan pengaruh,
bukan melalui garis keturunan, kecuali dalam waktu yang singkat
ketika Qalawun(1280-1290 M) menerapkan pergantian sultan secara turun
temurun. Anak Qalawun berkuasa hanya empat tahun, karena kekuasaannya
direbut oleh Kitbugha (1295- 1297 M). Sistem pemerintahan oligarki ini
banyak mendatangkan kemajuan di Mesir. Kedudukan amir menjadi sangat
penting. Para amir berkompetisi dalam prestasi, karena mereka merupakan
kandidat sultan. Kemajuan-kemajuan itu dicapai dalam bebagai bidang, seperti
konsolidasi pemerintahan, perekonomian, dan ilmu pengetahuan.
Sistem
Oligarki Militer lebih mementingkan kecakapan, kecerdasan, dan keahlian dalam
peperangan. Sultan yang lemah bisa saja disingkirkan atau diturunkan dari kursi
jabatannya oleh seorang Mamluk yang lebih kuat dan memiliki pengaruh besar di
tengah-tengah masyarakat. Kelebihan lain dari sistim oligarki militer ini
adalah tidak adanya istilah senioritas yang berhak atas juniornya untuk
menduduki jabatan sultan, melainkan lebih berdasarkan keahlian dan kepiawaian
seorang Mamluk tersebut.
6)
Bidang
Agama
Ajaran sunni dikembangkan di kalangan
masyarakat oleh ulama-ulama dan mubaligh yang dididik di universitas Al-Azhar.
Untuk melayani perkara yang muncul, pemerintahan dinasti mamluk mangangkat Qadhi/Hakim
untuk tiap-tiap mazhab giqh sunni, yaitu: qadhi Mazhab hanafi, Maliki, Syafi’i
dan Hambali.[10]
D. Berakhirnya Dinasti Mamluk
Setelah
memiliki kemajuan-kemajuan diberbagai bidang, yang tercapai berkat kepribadian
dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat dan
stabilitas negara yang aman dari gangguan.
Namun
faktor-faktor tersebut menghilang, dinasti Mamluk sedikit demi mengalami
kemunduran. Semenjak masuknya budak-budak dari Sirkasia yang kemudian dikenal
dengan nama Mamluk Burji, yang untuk pertama kalinya dibawa oleh Qalawun,
solidaritas antarsesama militer menurun, terutama setelah Mamluk Burji
berkuasa. Banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidak menyukai
ilmu pengetahuan. Kemewahan dan kebiasaan berfoya-foya di kalangan penguasa
menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya, semangat kerja rakyat menurun dan
perekonomian negara tidak stabil. Di samping itu, ditemukannya Tanjung Harapan
oleh Eropa melalui Mesir menurun fungsinya. Kondisi ini diperparah oleh
datangnya kemarau panjang dan berjangkitnya wabah penyakit.
Di
pihak lain, suatu kekuatan politik baru yang besar muncul sebagai tantangan
bagi Mamalik, yaitu kerajaan Usmani. Kerajaan inilah yang mengakhiri riwayat
Mamalik di Mesir. Dinasti Mamalik kalah melawan pasukan Usmani dalam
pertempuran menentukan di luar kota Kairo tahun 1517 M. Sejak itu wilayah Mesir
berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani sebagai salah satu provinsinya.[11]
KESIMPULAN
Dinasti Mamluk adalah
dinasti yang berasal dari budak-budak atau hamba sahaya yang pada mulanya
mereka adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa Dinasti Ayyubiyah. Dinasti
Mamluk adalah kerajaan Islam yang mampu bertahan dari serangan Mongol dan Timur
Lenk serta mereka juga mampu memporak-porandakan tentara Salib. Dengan
kemenangan itu Dinasti Mamluk mampu menyatukan kembali Mesir dan Syam di bawah
naungan Dinasti Mamluk.
Dinasti Mamluk
berkuasa kurang lebih selama 265 tahun yang dimulai pada tahun 1250 M sampai
tahun 1517 M. Di mana jumlah sultannya sebanyak 47 sultan. System pemerintahan
dinasti ini bersifat oligarki militer dan ada juga yang bersifat turun temurun.
Kerajaan Dinasti Mamluk terbagi menjadi dua periode yaitu periode pertama
dinamakan dengan Mamluk Bahri yang berkuasa mulai tahun 1250 – 1389 M. Pada
masa ini banyak sultan-sultan yang terkenal diantaranya adalah Quruz, Baybars,
Qalawun dan Nasir Muhammad bin Qalawun. Namun diantara sultan-sultan tersebut
yang paling lama memerintah adalah Baybars yang mampu berkuasa selama tujuh
belas tahun. Kemudian periode kedua yaitu Mamluk Burji yang berkuasa mulai
tahun 1389 – 1517 M. Pada masa ini Dinasti Mamluk mulai mengalami kelemahan
dikarenakan terjadi perang saudara dan huru-hara dan solidaritas antara militer
menurun, banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidak menyukai
ilmu pengetahuan. Dari situlah salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya
Dinasti Mamluk dari dalam, dan dari luar sendiri adanya tantangan baru dari
kerajaan Usmani yang pada akhirnya mengalahkan Dinasti Mamluk.
DAFTAR
PUSTAKA
Harun,
Maidir, Sejarah Kebudayaan Islam IV, Padang: IAIN Imam Bonjol, 2013.
Nasution,
Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta:
Universitas Indonesia Press, 1985.
Sunanto,
Musyrifah, Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Prenada Media,
2003.
Supriyadi,
Dedi, Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Yatim,
Badri, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:
Rajawali Pers, 2013.
[5] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai
Aspeknya, (Jakarta:
Universitas Indonesia Press, 1985), h. 81-82
[8] http//:SejarahPeradabanIslamPadaMasaDinastMamluk.html
[9]
Http//:IsraelJadikanMasjidPeninggalanDinastiMamlukSebagaiMuseum_UMMATIPRESS.html
[10]
Maidir Harun, Sejarah Kebudayaan Islam
IV, (Padang: IAIN Imam Bonjol,
2013) , h. 46
Tidak ada komentar:
Posting Komentar