Jumat, 16 September 2016

ORGANISASI – ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL

ORGANISASI – ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL

1.      INDISCHE PARTIJ
Indische Partij berdiri di Bandung pada tanggal 6 Desember 1912. Pendiri Indische Partij terkenal dengan sebutan tiga serangkai, yaitu Douwes Dekker (ketua), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (wakil ketua)[1]. Indische Partij adalah organisasi pergerakan nasional Indonesia pertama kali yang terang-terangan bergerak di bidang politik. Tujuan Indische Partij, yaitu menumbuhkan dan meningkatkan nasionalisme untuk memajukan tanah air yang dilandasi jiwa nasional serta mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka[2]. Dalam program kerjanya ditetapkan langkah-langkah untuk  menyukseskan  Indische Partij yaitu:
a)      Meresapkan cita-cita kesatuan nasional Indonesia.
b)      Memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik dibidang pemerintahan maupun kemasyarakatan.
c)      Memberantas usaha-usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu dengan agama yang lain.
d)     Memperbesar pengaruh pro Hindia (Indonesia) di dalam pemerintahan.
e)      Memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Indonesia, terutama memperkuat mereka yang ekonominya lemah.
Indische Partij  terdiri diatas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia sebagai “National Home” semua orang keturunan Bumi putera, Belanda, Cina, Arab dan sebagainya yang mengakui Indonesia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Paham ini pada waktu dahulu dikenal sebagai Indisch nationalisme. Yang kemudian hari melalui perhimpunan Indonesia dan PNI menjadi Indonesich Nationalisme atau Nasionalisme Indonesia. Pasal-pasal ini pulalah yang menyatakan Indische Partij sebagai partai politik yang pertama di Indonesia. Bahwa Indische Partij adalah suatu partai yang radikal juga, dinyatakan Douwes Dekker, didirikan partai ini merupakan “penantangan perang dari pihak budak koloni yang memungut pajak.”
Berbeda dengan sikap hati-hati terhadap Budi Utomo dan Serikat Islam pemerintah Hindia Belanda bersikap tegas terhadap Indische Partij. Permohonan yang diajukan kepada Gubernur Jendral untuk mendapat pengakuan sebagai badan hukum pada 4 Mare 1913, Ditolak dengan alasan organisasi ini berdasarkan politik dan mengancam hendak merusak keamanan umum[3]. Juga setelah pihak Indische Partij mengadakan audiensi kepada Gubernur Jenderal dan diubahnya pasal kedua dari anggaran dasar, Indische Partij tetap merupakan partai terlarang. Ini terjadi pada 11 Maret 1913. Kejadian ini merupakan peringatan keras bagi Indische Partij dan juga partai-partai lain, bahwa kemerdekaan itu tidak dapat diterima sebagai hadiah dari pemerintahan kolonial. Kemerdekaan itu haruslah direbut, sehingga makin jelas perkataan Douwes Dekker setahun sebelumnya, bahwa ”pengertian Hindia haruslah dipandang sebagai salah satu dari partai yang bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan. Pemerintah yang berkuasa disuatu tanah jajahan, bukanlah pemimpin namanya melainkan penindasan dan penindasan itu adalah musuh yang sebesar-besarnya bagi ksesejahteraan rakyat, lebih berbahaya dari pemberontakan atau gerakan yang meminta perubahan pemerintahan (revolusi).
Karena penulisan sebuah risalah yang berjudul“ Als ik een Nederlander was” (andai kata saya orang Belanda) oleh Suwardi Suryaninggrat pada sehubungan maksud Belanda mengadakan ulang tahun ke-100 kemerdekaan negeri Belanda terhadap Perancis. Pada bulan Agustus 1912, Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangunkusumo dan suwardi Suryaninggrat dijatuhi hukuman pembuangan, dan mereka memilih Belanda[4]. Setelah kepergian tiga serangkai membawa pengaruh terhadap Indische Partij yang semakin lama semakin menurun. Indishe partij hanya mampu bertahan selama kurang lebih satu tahun lamanya, namun apa yang di cita-citakan oleh Indische Partij telah tertanam pada hati sanubari seluruh rakyat Indonesia.
2.      INDISCHE VERENIGING (PERHIMPUNAN INDONESIA)
Perhimpunan Indonesia (PI) didirikan pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di negeri Belanda[5], diantaranya adalah Sutan Keayangan, R.M. Noto Suroto, mula-mula dengan nama Indische vereeniging. Tujuannya adalah untuk memajukan kepentingan-kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal dari  Indonesia, maksudnya orang-orang pribumi dan non pribumi bukan Eropa, di negeri Belanda dan hubungan dengan orang Indonesia.
Organisasi ini bersifat moderat (selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem) sebagai perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia di Belanda untuk memperbincangkan masalah dan persoalan tanah air. Pada awalnya Perhimpunan Indonesia merupakan organisasi sosial. Memasuki tahun 1913, dengan dibuangnya tokoh Indische Partij ke Belanda maka dibuatlah pokok pemikiran pergerakan yaitu Hindia untuk Hindia yang menjadi nafas baru. Perkumpulan mahasiswa Indonesia. Iwa Kusumasumantri sebagai ketua menyatakan 3 azaz pokok Indische Vereeniging yaitu:
1.      Indonesia menentukan nasibnya sendiri
2.      Kemampuan dan kekuatan sendiri
3.       Persatuan dalam menghadapi Belanda
Tahun 1925 Indische Vereeniging berubah menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuannya Indonesia merdeka. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh aktivis PI Belanda maupun di luar negeri, diantaranya ikut serta dalam kongres Liga Demokrasi Perdamaian Internasional tahun 1926 di Paris, dalam kongres itu Mohammad Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan akan kemerdekaan Indonesia. demikian pula pendapat-pendapat mereka banyak disampaikan ke tanah air.

Kejadian ini menyebabkan pemerinah Belanda bertambah curiga pada PI. Kecurigaan ini bertambah lagi sewaktu Moh,. Hatta atas nama PI menandatangani suatu perjanjian rahasia dengan semaun (PKI)  pada tanggal 5 Desember 1926 yang isinya menyatakan bahwa PKI mengakui kepemimpinan PI dan akan dikembangkan menjadi Partai Rakyat Kebangsaan Indonesia. perjanjian ini dinilai sebagai suatu masalah besar, dibatalkan kembali oleh semaun.
 Aksi-aksi yang dilakukan menyebabkan Hatta dkk. dituduh melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Karena dituduh menghasut untuk pemberontakan terhadap Belanda maka tahun 1927 tokoh-tokoh PI diantaranya M. Hatta, Nasir Pamuncak, Abdul Majid Djojonegoro dan Ali Sastroamijoyo ditangkap dan diadili[6] serta ditahan sampai tanggal 8 Maret 1928,  namun dalam pemeriksaan di sidang pengadilan di Den Haag tanggal 22 Maret 1928 akhirnya pengadian membebaskan mereka dari tuduhan setelah dilakukan pembelaan oleh Hatta dengan judul "Indonesia Virj" (Indonesia merdeka) dan tertuduh lainnya didampingi salah seorang pembela Mr. Ban Duys, seorang sosialis dalam perlemen Belanda.
3.      PARTAI KOMUNIS INDONESIA
a)      Latar belakang berdirinya
Pada tahun 1913, H.J.F.M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dialah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide sosial-demokrat yang revolusioner dan aktivisme serikat buruh di Indonesia. Pada tahun 1914, dia mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang berhaluan kiri, dan dengan cepat menjadi partai komunis pertama di Asia yang berada di luar Uni Soviet.[7] Dengan ini, dimulailah pergerakan yang digawangi oleh kaum komunis yang lebih radikal.
Di awal pergerakan yang dilakukannya, ISDV memiliki beberapa strategi politik untuk menyebarkan ideologi sosial-demokrat dan komunis, yang merupakan hasil manifestasi paham marxisme yang lahir di Eropa sebagai buah pemikiran Karl Marx dan Friedrich Engels. Strategi itu diantaranya adalah dengan mendekati serdadu-serdadu bangsa Belanda, Serdadu-serdadu Angkatan Laut, pegawai negri bangsa Belanda di bagian sipil[8] Karena itu, pada awalnya ISDV beranggotakan orang-orang berkebangsaan Belanda dan golongan Indo saja. Setelah, para pemimpin ISDV diasingkan oleh pemerintah termasuk Sneevliet, dimulailah aktivitas politik ISDV yang dipimpin oleh orang-orang Indonesia. Maka, ISDV berubah namanya menjadi Perserikatan Kommunist di Hindia, dan diganti lagi namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Maka, pada tahun 1920 lahirlah PKI dengan diketuai Semaun.
b)     Tokoh Kunci Pergerakan PKI
Semaun adalah tokoh kunci PKI, dia adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaun mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Pada 23 Mei 1920 Semaun mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaun sebagai ketuanya. PKI pada awalnya adalah bagian dari SI, tapi akibat dari perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga Semaoen meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow[9].
c)      Pemberontakan 1926
Pada Mei 1925, Komite Exec dari Komintern dalam rapat pleno memerintahkan komunis di Indonesia untuk membentuk sebuah front anti-imperialis bersatu dengan organisasi nasionalis non-komunis, tetapi unsur-unsur ekstremis didominasi oleh Alimin & Musso menyerukan revolusi untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda. Dalam sebuah konferensi di Prambanan, Jawa Tengah, serikat buruh perdagangan yang dikontrol komunis memutuskan revolusi akan dimulai dengan pemogokan oleh para pekerja buruh kereta api yang akan menjadi sinyal pemogokan yang lebih umum dan luas untuk kemudian revolusi akan bisa dimulai. Hal ini akan mengarah pada PKI yang akan menggantikan pemerintah kolonial.
Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Bersama Alimin, Musso yang merupakan salah satu pemimpin PKI di era tersebut sedang tidak berada di Indonesia. Ia sedang melakukan pembicaraan dengan Tan Malaka yang tidak setuju dengan langkah pemberontakan tersebut. Pemberontakan ini akhirnya dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial. Ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dipenjara, sejumlah 1.308 yang umumnya kader-kader partai diasingkan, dan 823 dikirim ke Boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua [9]. Beberapa orang meninggal di dalam tahanan. Banyak aktivis politik non-komunis yang juga menjadi sasaran pemerintahan kolonial, dengan alasan menindas pemberontakan kaum komunis. Pada 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Karena itu, PKI kemudian bergerak di bawah tanah.
Rencana pemberontakan itu sendiri sudah dirancang sejak lama. Yakni di dalam perundingan rahasia aktivis PKI di Prambanan. Rencana itu ditolak tegas oleh Tan Malaka, salah satu tokoh utama PKI yang mempunyai banyak massa terutama di Sumatra. Tan Malaka memprediksi bahwa pemberontakan akan gagal, karena menurutnya basis kaum proletar Indonesia adalah rakyat petani bukan buruh seperti di Uni Soviet. Penolakan tersebut membuat Tan Malaka di cap sebagai pengikut Leon Trotsky yang juga sebagai tokoh sentral perjuangan Revolusi Rusia. Walau begitu, beberapa aksi PKI justru terjadi setelah pemberontakan di Jawa terjadi. Semisal Pemberontakan Silungkang di Sumatra.
Pada masa awal pelarangan ini, PKI berusaha untuk tidak menonjolkan diri, terutama karena banyak dari pemimpinnya yang dipenjarakan. Pada 1935 pemimpin PKI Musso kembali dari pengasingan di Moskwa, Uni Soviet, untuk menata kembali PKI dalam gerakannya di bawah tanah. Namun Musso hanya tinggal sebentar di Indonesia. Kemudian PKI bergerak di berbagai front, seperti misalnya Gerindo dan serikat-serikat buruh. Di Belanda, PKI mulai bergerak di antara mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kalangan organisasi nasionalis, Perhimpoenan Indonesia , yang tak lama kemudian berpihak pada PKI.[10]
d)     Pembunuhan Massal dan Akhir dari PKI
Soekarno bertindak menyeimbangkan antara PKI, militer, faksi nasionalis, dan kelompok-kelompok Islam terancam oleh kepopuleran PKI. Pengaruh pertumbuhan PKI menimbulkan keprihatinan bagi pihak Amerika Serikat dan kekuatan barat anti-komunis lainnya. Situasi politik dan ekonomi menjadi lebih tidak stabil; Inflasi tahunan mencapai lebih dari 600 persen dan kehidupan Indonesia memburuk.
PKI dirasakan oleh kalangan politik, beberapa bulan menjelang Peristiwa G30S, makin kuat. Sehingga para pesaing PKI mulai khawatir PKI akan memenangkan pemilu berikutnya. Gerakan-gerakan untuk menentang PKI mulai bermunculan, dan dipelopori oleh Angkatan Darat. Pada Desember 1964, Chaerul Saleh dari Partai Murba (dibentuk oleh mantan pemimpin PKI Tan Malaka) menyatakan bahwa PKI sedang mempersiapkan kudeta. PKI menuntut larangan Partai Murba, tuntutan itu dipaksakan kepada Soekarno pada awal 1965. Dalam konteks Konfrontasi dengan Malaysia, PKI menyerukan untuk 'mempersenjatai rakyat'. Sebagian besar pihak dari tentara Angkatan Darat melarang hal ini. Sikap Soekarno tetap secara resmi untuk tidak terlalu mengambil sikap atas hal tersebut karena Sukarno cenderung mendukung Konfrontasi dengan Malaysia seperti PKI. Pada bulan Juli sekitar 2000 anggota PKI mulai menggelar pelatihan militer di dekat pangkalan udara Halim. Terutama dalam konsep 'mempersenjatai rakyat' yang telah memenangkan banyak dukungan di antara kalangan militer Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Pada tanggal 8 September demonstran PKI memulai untuk pengepungan selama dua hari di Konsulat AS di Surabaya. Pada tanggal 14 September, Aidit mengalamatkan kepada gerilyawan PKI untuk mendesak anggota agar waspada dari hal-hal yang akan datang. Pada 30 September Pemuda Rakyat dan Gerwani, kedua organisasi PKI terkait menggelar unjuk rasa massal di Jakarta terhadap krisis inflasi yang melanda.
Pada malam 30 September dan 1 Oktober 1965, enam jenderal senior Indonesia dibunuh dan mayat mereka dibuang ke dalam sumur. Pembunuh para jenderal mengumumkan keesokan harinya bahwa Dewan Revolusi baru telah merebut kekuasaan, yang menyebut diri mereka "Gerakan 30 September ("G30S"). Dengan banyaknya jendral tentara senior yang mati atau hilang, Jenderal Suharto mengambil alih kepemimpinan tentara dan menyatakan kudeta yang gagal pada 2 Oktober. Tentara dengan cepat menyalahkan upaya kudeta PKI dan menghasut dengan kampanye propaganda anti-Komunis di seluruh Indonesia. Bukti yang mengaitkan PKI untuk pembunuhan para jenderal tidak meyakinkan, yang mengarah ke spekulasi bahwa keterlibatan mereka sangat terbatas, atau bahwa Suharto mengorganisir peristiwa, secara keseluruhan atau sebagian, dan mengkambinghitamkan kepada komunis. Dalam pembersihan anti-komunis melalui kekerasan berikutnya, diperkirakan 500.000 komunis (atau dicurigai) dibunuh, dan PKI secara efektif dihilangkan (lihat Pembantaian di Indonesia 1965–1966). Jenderal Suharto kemudian mengalahkan Sukarno secara politik dan diangkat menjadi presiden pada tahun 1968, karena mengkonsolidasikan pengaruhnya atas militer dan pemerintah.[11]
Sampai tahun 2004, mantan anggota PKI masih dilarang dan masuk daftar hitam dari banyak pekerjaan termasuk apabila ingin bekerja di pemerintahan, sebagaimana kebijakan rezim Soeharto yang telah dijalankan sejak pembersihan PKI tahun 1965. Selama masa presiden Abdurrahman Wahid, ia mengundang mantan buangan PKI untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1999, dan mengusulkan menghilangkan pembatasan diskusi terbuka atas ideologi komunis. Dalam berdebat untuk penghapusan larangan itu, Wahid mengutip dari UUD 1945 Indonesia, yang tidak melarang atau bahkan secara khusus menyebutkan komunisme. Usulan Wahid itu ditentang oleh beberapa kelompok masyarakat Indonesia, khususnya kelompok Islam konservatif. Dalam sebuah protes pada April 2000, sebuah kelompok yang disebut Front Islam Indonesia berjumlah sepuluh ribu orang datang ke Jakarta terkait usulan Wahid. Tentara tidak segera menolak proposal tersebut, namun menjanjikan "studi komprehensif dan teliti" terhadap ide tersebut.[12]


DAFTAR PUSTAKA

Sudiyo. 2002.  Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan, Jakarta :  PT. Rineka Cipta.
Kartodirdjo, Sartono. 1975. sejarah nasional indonesia jilid IV,  Jakarta: Depdikbud.
Ricklefs. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 Jakarta: Serambi..
Pringgodigdo.  1994 Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Dian Rakyat.
Wikipedia, “Semaun”, diakses dari id.wikipedia.org/wiki/Semaun pada 7 April 2012
Partai Komunis Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html





[1] Sudiyo, Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan, ( Jakarta :  PT. Rineka Cipta, 2002 ), hlm.35
[2] Sartono Kartodirdjo, sejarah nasional indonesia jilid IV, ( Jakarta: Depdikbud, 1975 ), hlm. 191
[3] Op. Cit. Hlm. 38
[4]  Ibid. Hlm. 36
[5] Ibid. Hlm. 24
[6] Ibid. Hlm. 28
[7] Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (Jakarta: Serambi, 2010), hlm. 370.
[8] Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, (Dian Rakyat,1994). hlm. 28
[9] Wikipedia, “Semaun”, diakses dari id.wikipedia.org/wiki/Semaun pada 7 April 2012
[10] Partai Komunis Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html
[11] Ibid.
[12] ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar