
A. IDENTITAS BUKU
Judul Buku Terjemahan : Sejarah
Indonesia Modern 1200-2008 A
Judul Asli : A History Of Modern Indonesia Since C. 1200
Penulis : M. C. Ricklefs
ISBN : 979-16-0012-0
Penerbit : Serambi
Penerjemah :
Tim Penerjemah Serambi
Penyunting :
Moh. Sidik Nugraha dan M. C. Ricklefs
Pemeriksa Aksara :
Daniel Solihin
Pewajahan :
Siti Qamariyah
Kategori : Buku Sejarah
Tempat Dan Tahun Terbit : Jakarta, 2008
Tebal : 866 Hlm.
Ukuran : 15x23.5 cm
B. IDENTITAS PENULIS
M. C. RICKLEFS adalah profesor sejarah di universitas nasinal
Singapore. Dia pernah mengajar di Sekolah Kajian Oriental Dan Afrika
(Universitas London) dan Universitas Monash, dan menjadi Direktur Sekolah
Penelitian Tentang Asia dan Pasific (Universitas Australia).
C. ISI BUKU
1.
Bahasan ke 4 mengenai munculnya konsepsi indonesia ± 1900-42
BAB 14 hlm 327-351 berjudul zaman penjajahan baru,
berisikan tentang pernyataan keprihatinan Belanda atas kesejahteraan bangsa
Indonesia, lalu dia membuat suatu kebijakan yang diberi nama “Politik Etis”,
yang isinya lebih banyak janji-janji dari pada pelaksanaan, namun intinya hanya
eksploitasi dan penaklukan. Belanda menyebutkan tiga prinsip Politik Etis,
yaitu pendidikan, pengairan dan perpindahan penduduk.
Ciri-ciri dari Politik Etis yaitu,
kekayaan indonesia dimanfaatkan untuk kepentingan perusahaan asing, sedangkan
industri pribumi tidak dikembangkan. Pertumbuhan ekonomi yang penting
berlangsung di luar jawa sedangkan di Jawa sendiri ekonomi tak berjalan begitu
baik. Pendidikan seharusnya menjadi kunci bagi suatu zaman yang baru, tetapi
jumlah sekolah yang disediakan terlalu sedikit dibanding jumlah penduduk.
Konsesi-konsesi kekuasaan politik yang dangkal dipergunakan untuk mengesahkan
suatu pemerintahan yang otoriter.
Bentuk dari politik etis itu
sendiri, yaitu industri Belanda melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial,
banyak modal Belanda maupun internasional mencari peluang-peluang baru bagi
investasi dan eksploitasi bahan mentah, khususnya di daerah luar Jawa. Pajak
yang dikenakan kepada orang Indonesia mengalami kenaikan ketika keuangan
kolonial terancam pada Perang Dunia I. Meningkatkan produksi bahan pangan
dengan jalan mengadakan percobaan dengan bibit-bibit baru, mendorong pemakaian
pupuk dsb. Belanda meningkatkan anggaran belanja mereka untuk proyek-proyek
kesehatan umum. Orang – orang Indonesia
diberikan kesempatan untuk memperoleh pelajaran bahasa Belanda.
Adanya sekolah-sekolah
Hollandsch – Inlandsch, “Belanda-Pribumi” (HIS), 1914 untuk bangsa Indonesia
golongan atas. Tahun 1914 berdiri sekolah MULO ( Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs, semacam SLTP yang didirikan untuk orang-orang Indonesia golongan
atas, orang-orang Cina, dan orang-orang Eropa yang telah selesai sekolah dasar.
Tahun1919, AMS (Algemeene Middelbare Scholen), semacam SMU yang didirikan untuk
membawa para murid memasuki tingkat perguruan tinggi. Yang mendapat kesempatan
memasuki perguruan tinggi adalah mereka yang berhasil menembus sistem Eropa
menuju HBS (Hoogere Burgerschool; sekolah atas untuk kelas menengah) dan
kemudian keperguruan tinggi di negeri Belanda.
BAB 15 hlm 352-387 berjudul Langkah-Langkah Pertama Menuju
Kebangkitan Nasional ± 1900-27 Berisi tentang timbulnya gerakan-gerakan
anti-penjajahan dalam bentuk organisasi-organisasi yang didominasi oleh orang
Jawa dan etnis Minangkabau. Dari Jawa adanya gerakan dari kaum abangan yang pemikiran agama mereka
cenderung bersifat mistik, relatif tidak memperdulikan tuntutan kewajiban
upacara agama Islam dan sevara budaya terikat pada bentuk-bentuk seni Jawa,
seperti wayang. Bulan Mei 1908 berdirilah Budi Utomo yang merupakan sebuah
organisasi pelajar guna memajukan kepentingan priyayi rendahan. Bidang perhatiannya
meliputi penduduk Jawa dan Madura, kebudayaannya berkaitan erat dengan Jawa,
bahasa resminya bahasa Melayu. Organisasi ini merupakan lembaga yang
mengutamakan kebudayaan dan pendidikan jarang memainkan peran politik yang
aktif.
Tokoh dari budi utomo yaitu
Dr. Wahidin soedirohoesodo yang merupakan inspirator pembentukan organisasi
ini, Tjipto Mangunkusumo yang radikal juga seorang dokter memimpin sekelompok
minoritas. Ketika ditangannya organisasi ini tidak terbatas di Jawa dan Madura,
dia juga tidak mengagumi kebudayaan Jawa. Selanjutnya Dr. Radjiman
Wediodiningrat seorang dokter dari Jawa yang dipengaruhi kebudayaan Jawa.
Selanjutnya tahun 1909
organisasi Serikat Dagang Islamiyah yang didirikan oleh Tirtoardisurjo, organisasi
ini dimaksudkan untuk membantu pedagang-pedagang Indonesia. Tahun 1912
organisasi ini merubah namanya menjadi Serikat Islam (SI).
Masa sesudah tahun 1909, di
seluruh Indonesia bermunculan organisasi baru di kalangan elite terpelajar,
seperti Jong Java “Pemuda Jawa” (1918), Jong Sumatranen Bond “Perserikatan
Pemuda Sumatra” (1917), Studerenden Vereeniging Minahasa “ Perserikatan Mahasiswa Minahasa (1918), Jong Ambon (1918),
Sarekat Ambon (1920), Pasundan “Tanah Sunda”, (1914), Dll.
Kemudian lahirlah gerakan
Pembaharuan Islam, orang-orang Minangkabau memainkan peran penting didalamnya.
Tahun 1906, surat kabar bahasa Melayu al-imam,
“pemimpin agama”, mulai diterbitkan di Singapura dengan menyajikan analisis
Islam modernis pertama yang benar-benar mendalam mengenai masalah-masalah
sosial, agama, dan ekonomi.
Tokoh ulama dari Minangkabau
diantaranya Syekh Tahir Bin Jalaluddin (1869-1957), Syekh Ahmad Khatib yang
merupakan Imam Mazhab Syafi’i Di Masjid Mekah, Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947),
Haji Rasul ( Haji Abdul Karim Amrullah, 1879-1945) yang keduanya merupakan
murid Ahmad Khatib.
Kemudian pada tahun 1909 ,
sekolah modernis pertama lahir di Padang yang bernama Sekolah Adabiyah, Sekolah
Tawalib di Padangpanjang, pendidikan kaum wanita Islam dimulai pada tahun 1915
ketika sekolah Diniyah di buka di Padangpanjang, pada tahun 1909 Sutan Maharaja
mendirikan sekolah penenunan untuk kaum wanita di Padang, tahun 1911, ia
menerbitkan surat kabar yan bernama soenting
melajoe, “Hiasan Melayu”, salah satu terbitan pertama untuk kaum wanita
Indonesia.
Pada tahun 1912, kyai Haji
Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah “jalan Muhammad”, namun Muhammadiyah
mengundang banyak permusuhan dan kebencian dari komunitas adama di Jawa. Di
Minangkabau sendiri organisasi ini mendapat sambutan baik oleh masyarakat,
karena orang Minang bersifat dinamis. Muhammadiya di minangkabau di perkenalkan
oleh Haji Rasul pada tahun 1925. Anggotanya juga lebih banyak dari yang di
Jawa, yaitu ± 250.000 orang.
Pada tahun 1911, suatu
partai politik yang bernama Indische Partij, “partai Hindia”, didirikan oleh
seorang Indo-Eropa yang radikal bernama E.F.E. Doiwes Dekker (Setia Buddhi).
Pada tahun 1913, H.J.F.M
sneevliet, mendirikan gerakan revolusioner dan aktivisme dari serikat buruh,
yang diberi nama Indische Sociaal-Democratische vereemiging (ISDV), “ Ikatan
sosial-demokrat Hindia”, di Surabaya. Ini adalah partai komunis di Asia yang
berada di luar negeri Uni Soviet. Seorang pemuda jawa buruh kereta api yang
bernama Semaun menjadi angggota SI cabang Surabaya pindah ke Semarang, dimanan
Sneevliet aktif dalam buruk kereta api dan trem. Kini Semaun juga bergabung
dengan ISDV.
Ketika organisasi ISDV
berada di tangan Semaun dan Darsono Notosudirdjo, pada tahun 1924, ISDV berganti
nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Lahirlah PKI. Hancurnya PKI karena
perpecahan di dalam tubuhnya, pimpinan PKI mulai meragukan cita-cita, ideologi
dan propagandanya ketika menemukan bahwa jumlah pengikutnya yang nonproletar
atau yang tidak tergolong kaum buruh semakin banyak.
BAB 16 hlm 388-418 berjudul Represi dan Krisis Ekonomi
1927-1942, berisi tentang, penindasan dan kekangan yang terjadi pada rakyat
Indonesia serta krisis ekonomi dibawah kekuasaan kolonial Belanda dan timbulnya
semangat nasionalisme yang dibawa oleh pemimpin – pemimpin baru setelah
hancurnya PKI yang menimbulkan semangat baru, yaitu Sukarno yang mendirikan Algemeene
Studieclub, “ kelompok belajar umum”, di kalangan mahasiswa. Kelompok belajar
ini bersifat politis, dengan kemerdekaan Indonesia sebagai tujuannya.
Pada tanggal 4 juli 1927,
sukarno dan Algemeene Studieclub memprakarsai pembentukan partai politik baru,
Perserikatan Nasional Indonesia, dengan Sukarno sebagai ketuanya. Pada bulan
Mei nama partai ini diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Tujuan PNI
adalah kemerdekaan bagi kepulauan Indonesia yang akan dicapai dengan cara
noonkooperatif dan dengan organisasi massa, mencita-citakan kemerdekaan
politik, berpandangan kewilayahan denganbatas-batas yang telah ditentukan oleh
kolonial Belanda dan berideologikan nasionalisme sekuler.
Dan juga pada Bab ini juga
membahas bentuk gerakan-gerakan nasionalisme, seperti dalam bidang sastra; pada
tahun 1918 terbit sekitar 40 surat kabar, tahun 1925 ada sekitar 200 , tahun
1928 ada lebih dari 400 harian, mingguan, dan bulanan. Munculnya kesastraan
modern, tokohnya Muhammad Yamin meninggalkan benuk-bentuk pantun dan syair
serta menerbitkan sajak-sajak pertamanya tahun 1929-1930. Pada tahun 1922,
Marah Roesli menerbitkan roman modern pertama, siti noerbaja. Seorang
pengarang Batak, Sanusi Pane menulis puisi modern pada tahun 1921.
Pada bidang seni lukis
muncullah pelukis Jerman Walter spies tahun 1920-an dan seniman Belanda Rudolf
Bonnet yang tinggal di Bali dan terjadilah proses saling mempengaruhi antara
kesenian Bali dengan kesenian Eropa.
Pada bulan Oktober 1928,
kegiatan-kegiatan budaya dan politik ke
arah persatuan Indonesia bergabung secara resmi pada kongres pemuda yang
diadakan di Batavia. Di dalam sumpah pemuda-nya, kongres menyetujui tiga
pengakuan: satu tanah air, Indonesia; satu bangsa, Indonesia dan satu bahasa,
bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Dalam memperingati kongres ini, Yamin
menulis sekumpulan sajak yang terbit tahun 1929 dengan judul Indonesia tumpah
darahku.
Tahun 1930, ekonomi
Indonesia tiba-tiba berubah karena depresi ekonomi yang melanda dunia. Harga
beberapa produk indonesia mengalami penurunan dan pasar untuk ekspor gula
menciut karena produksi gula bit meluas di mana-mana. Tak cukup siap menghadapi
apa yang akan terjadi setelah Oktober 1929. Indonesia amat tergantung pada
ekspornya, terutama produksi minyak bumi dan pertanian. Perusahaan-perusahaan
kecil menghadapi bencana. Para pekerja diberhentikan dan akibatnya gaji yang
dibayarkan dalam industri berkurang. Rekuitmen pegawai sipil secara keseluruhan
dihentikan, gaji dipotong, dan pegawai negeri yang tidak penting diberhentikan.
Dampak dari krisis ekonomi
tersebut ialah para pekerja Indonesia cenderung kembali ke pertanian untuk
menyambung hidup, sebagian lahan yang tidak digunakan lagi untuk produksi gula
digunakan kembali untuk produksi padi.
Bab ini diakhiri dengan
berakhirnya pemerintahan kolonial belanda di Jawa yang menyerah dan gubernur
Jendral Tjarda van Starsjenborgh di tawan oleh pihak Jepang.
2. Bahasan
ke 5 mengenai Runtuhnya Negara Jajahan, 1942-50
Bab 17 hlm 421-445 berjudul Perang Dunia II dan Pendudukan
Jepang , 1942-5. Membahas tentang
mulainya kekuasaan Jepang atas Indonesia dimana Jepang menerapkan berbagai
aturan-aturan terhadap wilayah jajahannya tersebut serta jepang mencoba
menghapus pengaruh Barat dari wilayah jajahannya. Akhir dari Bab ini ialah sampai
Indonesia merdeka dari tangan Jepang, yang ketika itu Jepang mengalami kekalahan
pada perang dunia II, yang menjadi
kesempatan emas bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan.
Beberapa kebijakan Jepang atas Indonesia
ialah Indonesia dibagi atas tiga wilayah oleh Jepang. Sumatera ditempatkan di
bawah Angkatan Darat ke-25, sedangkan Jawa dan maduran berada di bawah Angkatan
Darat ke-16, kedua wilayah ini berada di bawah angkatan darat wilayah ke-7
dengan markas besarnya di Singapura. Kalimantan dan Indonesia Timur dikuasai
oleh Angkatan Laut.
Kebijaksanaan
Jepang terhadap rakyat Indonesia mempunyai dua prioritas: menghapus
pengaruh-pengaruh Barat di kalangan mereka dan memobilisasi mereka demi
kemenangan Jepang. Seperti halnya Belanda, Jepang bermaksud menguasai Indonesia
untuk kepentingan mereka sendiri.
Untuk
memusnahkan pengaruh Barat, pihak Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda dan
bahasa Inggris serta memajukan pemakaian bahasa Jepang. Patung-patung Eropa
diruntuhkan, jala-jalan diberi nama barum dan Batavia diberi nama Jakarta lagi.
Jepang mulai menghapuskan semua organisasi politik dan mulai membentuk organisasi baru.
Pada bulan April 1942, usaha pertama dalam
bentuk gerakan rakyat, “Gerakan tiga A”, dimulai di Jawa. Nama ini berasal dai
slogan bahwa Jepang adalah pemimpin Asia, pelindung Asia, dan cahaya Asia.
Gerakan ini tidak berhasi mencapai tujuannya, karena para pejabat Indonesia
hanya memberi sedikit dukungan.
Bulan April
1943, suatu Korps pemuda (Seinenda) yang bersifat semi militer dibentuk untuk
para pemuda yang berusia anara 14 dan 25 tahun. Untuk para pemuda yang berusia
25-35 tahun dibentuk suatu Korps kewaspadaan (Keibodan), sebagai organisai
pembantu polisi, kebakaran dan serangan udara. Pada pertengahan tahun 1943,
dibentuk Heiho (pasukan pembantu), sebagai bagian dari angkatan darat dan angkatan laut Jepang.
Pada akhir
Bab ini, menjelaskan kekalahan dan
menyerahhnya Jepang yang ketika itu pada
tanggal 6 Agustus, bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima yang menewaskan
78.000 orang. Dan bom atom kedua jatuh di Nagasaki. Membuat Jepang menyerah
tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus, maka
terjadi kekosongan politik di Indonesia. Di rumah laksamana Maeda di
jakarta pernyataan kemerdekaan dirancang sepanjang malam hingga pada tanggal 17
Agustus 1945 pagi, Sukarno membacakan pernyataan kemerdekaan dihadapan
sekelompok orang. Akhirnya Republik Indonesia telah lahir.
Bab 18 hlm 446-492 berjudul Revolusi, 1945-50,
membahas tentang Semua usaha yang menentu untuk mencari identitas-identitas
baru, untuk persatuan dalam menghadapi kekuasaan asing, dan untuk suatu tatanan
sosial yang lebih adil akhirnya membuahkan hasil pada masa-masa sesudah perang
dunia II. Untuk pertama kalinya di dalam kehidupan kebanyakan rakyat Indonesia
segala sesuatu yang serba paksaan yang berasal dari kekuasaan asing hilang
secara tiba-tiba.
kekuatan-kekuatan perjuangan bersenjata dan
kekuatan-kekuatan diplomasi, antara mereka yang mendukung revolusi dan mereka
yang menentangnya, antara generasi muda dan generasi tua, antara golongan kiri
dan golongan kanan, antara kekuatan-kekuatan islam dan kekuatan-kekkuatan
sekuler, dan sebagainya. Hal ini merupakan suatu gambaran mengenai suatu masa
ketika perpecahan-perpecahan yang menimpa bangsa Indonesia berbentuk beraneka
ragam dan terus-menerus berubah. Sedangkan, bagi para pemimpin revolusi
Indonesia, tujuannya adalah melengkapi dan menyempurnakan proses penyatuan dan
kebangkitan nasional yang telah dimulai empat dasawarsa sebelumnya.
Untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mendapatkan pengakuan dari negara
lain, pemerintah pusat republik segera dibentuk di Jakarta pada akhir Agustus
1945. Sukarno diangkat menjadi presiden (1945-60) dan Hatta sebagai wakil
presiden serta ditunjuklah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk
membantu presiden dan komite nasional serupa akan dibentuk di tingkat provinsi
serta karesidenan.
Berakhirnya Revolusi Fisik ketika adanya pengakuan kedaulatan tanggal 27
desember 1949, maka berakhirlah masa revolusi bersenjata di Indonesia dan
secara de jure pihak Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk
RIS. Namun atas kesepakatan rakyat Indonesia tanggal 17 agustus 1950, RIS
dibubarkan dan dibentuk NKRI. Selanjutnya pada tanggal 28 september 1950,
Indonesia di terima menjadi anggota PBB yang ke-60. Hal ini berarti bahwa
kemerdekaan Indonesia secara resmi telah di akui oleh dunia internasional.
3. Bahasan ke 6 mengenai Indonesia Merdeka
Bab 19 hlm
493-532 berjudul Percobaan Demokrasi Pertama 1950-7, tentang cara Indonesia
menata diri sendiri, menentukan masa depannya setelah berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan, karena Indonesia masih menunjukkan adanya
kemiskinan,rendahnya tingkat pendidikan,dan tradisi-tradisi yang
otoriter,artinya Indonesia bergantung kepada kearifan dan nasib baik
kepemimpinan Indonesia.
Indonesia memnciptakan sebuah negara demokrasi, akan
tetapi pada tahun1957, percobaan demokrasi pertama ini mengalami kegagalan,
korupsi tersebar luas, kesatuan wilayah negara terancam, keadilan sosial belum
tercapai, masalah-masalah ekonomi belum terpecahkan dan banyak harapan yang
ditimbulkan oleh revolusi tidak terwujud.
Masalah-masalah ekonomi sangat besar, perkebunan-perkebunan
dan instalasi-instalasi industri di penjuru negeri rusak berat, jumlah penduduk
meningkat tajam, produksi pangan meningkat, tapi tidak cukup,
Karena di jawa terdapat ibukota negara,
sebagian kota-kota besar lainnya adalah mayoritas kaum politisi sipil, dan
mayoritas penduduk negara maka, daerah luar jawa pada umumnya cenderung
dilupakan oleh pemerintah pusat. Dalam pensubsidian perekonomian Jawa , Maka
Rupiah Indonesia (mata uang yang diperkenalkan setelah Revolusi) dipertahankan
pada nilai tukar yang di buat tinggi.Hal ini menyebabkan kesulitan bagi daerah
daerah diluar pulau Jawa, sehingga banyak terjadi penyeludupan dan perdagangan
gelap.
Diantara masalah-masalah yang dihadapi negara
baru ini ialah apa yang harus dilakukan
dengan tentara. Dan inilah persoalan-persoalan yang mendominasi sebagian
besar sejarah Indonesia setelah tahun 1950, tahun ini politisi beranggapan
bahwa mereka berhak untuk mengatur tentang urusan militer. Mulai dari tahun
kemerdekaan sampai tahun 1950 tentara sudah berkurang dari yang awalnya 250.000
sampai 300.000 orang menjadi 200.000 orang saja. Panglima terpecah-pecah
diantara mereka ini, hal ini terjadi karena tidak adanya peran pasti mereka.
Perpecahan di tubuh tentara masih mencerminkan asal usul pada mas belanda, Jepang
dan Revolusi.
Meskipun sistem politik sampai 1957 tersebut
mempunyai kelemahan, namun rakyat Indonesia telah mendapatkan suatu kmenangan.
Indonesia merupakan sebuah Negara tunggal. Ironi terbesar selam waktu 1950-1957
ialah bahwa ketika negara inonesia terpecah-pecah negara itu juga tetap bersatu
padu jarang sekali. Moto nasional bineka tunggal ika lebih cocok dengan keadaan
polotik yang mana banyak terjadi perpecahan dan konflik didalam negara
Indonesia.
Bab 20 hlm 533-586 berjudul demokrasi terpimpin 1957-65, membahas Demokrasi
terpimpin adalah sebuah sistem demokrasi dimana seluruh keputusan dan pemikiran
berpusat pada pemimpin negara. Konsep sistem Demokrasi Terpimpin pertama kali
diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam pembukaan sidang konstituante pada
tanggal 10 November 1956. Masa demokrasi terpimpin (1957-1965) dimulai dengan
tumbangnya demokrasi parlementer atau demokrasi liberal yang ditandai
pengunduran Ali Sastroamidjojo sebagai perdana menteri.
Pelaksanaan sistem Demokrasi Terpimpin,
sebenarnya merupakan wujud dari obsesi Presiden Soekarno yang dituangkan dalam
Konsepsinya pada tanggal 21 Februari 1957, yang isinya mengenai penggantian
sistem Demokrasi Liberal menjadi Demokrasi Terpimpin, pembentukan Kabinet
Gotong Royong, dan pembentukan Dewan Nasional. Ketegangan-ketegangan politik
yang terjadi pasca Pemilihan Umum 1955 membuat situasi politik tidak menentu.
Kekacauan politik ini membuat keadaan negara menjadi dalam keadaan darurat. Hal
ini diperparah dengan Dewan Konstituante yang mengalami kegagalan dalam
menyusun konstitusi baru, sehingga negara Indonesia tidak mempunyai pijakan
hukum yang mantap.
Bab 21 hlm 587-624 Menciptakan Orde Baru 1965-1975, membahas tentang Lahirnya
era orde baru dilatarbelakangi oleh runtuhnya orde lama. Tepatnya pada saat
runtuhnya kekuasaan Soekarno yang lalu digantikan oleh Soeharto. Salah satu
penyebab yang melatarbelakangi runtuhnya orde lama dan lahirnya orde baru
adalah keadaan keamanan dalam negri yang tidak kondusif pada masa orde lama.
Terlebih lagi karena adanya peristiwa pemberontakan G30S PKI. Hal ini
menyebabkan presiden Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk
melaksanakan kegiatan pengamanan di indonesia melalui surat perintah sebelas
maret atau Supersemar.
Kronologis lahirnya orde baru, 30 September
1965, Terjadinya pemberontakan G30S PKI. 11 Maret 1966, Letjen Soeharto
menerima Supersemar dari presiden Soekarno untuk melakukan pengamanan. 12 Maret
1966, dengan memegang Supersemar Soeharto mengumumkan pembubaran PKI dan
menyatakannya sebagai organisasi terlarang. 22 Februari 1967, Soeharto menerima
penyerahan kekuasaan pemerintahan dari presiden Soekarno.7 Maret 1967, melalui
sidang istimewa MPRS, Soeharto ditunjuka sebagai pejabat presiden sampai
terpilihnya presiden oleh MPR hasil pemilu. 12 Maret 1967 Jenderal Soeharto
dilantik menjadi presiden Indonesia kedua sekaligus menjadi masa awal mula
lahirnya era orde baru.
Peristiwa-Pristiwa Lahirnya Orde Baru,
aksi-aksi mahasiswa. Pada Sidang paripurna cabinet Dwikora tanggal 6 Oktober
1965, presiden memutuskan bahwa penyelesaian politik Gerakan 30 September akan
ditangani langsung oleh presiden. Sementara itu, tuntutan penyelesaian
seadil-adilnya terhadap para pelaku Gerakan 30 September semakin meningkat.
Tuntutan itu di pelopori oleh kesatuan aksi mahasiswa (KAMI), pemuda
–pemuda(KAPPI), dan pelajar (KAPI). Kemudian muncul pula KABI (buruh),KASI (Sarjana),
KAWI (Wanita),dan KAGI (guru). Pada tanggal 26 Oktober 1965, kesatuan-kesatuan
aksi tersebut bergabung dalam satu front, yaitu FRONT PANCASILA. Mereka menyampaikan Tri Tuntutan
Rakyat(TRITURA) kepada pemerintah, yang berisi bubarkan PKI, Retool
Kabinet DWIKORA, Turunkan Harga/Perbaikan Ekonomi.
Kabinet Dwikora yang disempurnakan. pada hari
pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan tanggal 24 Februari 1966 terjadi
demonstrasi besar-besaran. Dalam bentrokan di sekitar istan mahasiswa UI yang
bernama Arief Racham Hakim tewas tertembak oleh Cakrabirawa, dan keesokan harinya
Presiden sebagai Panglima Komando Gayang Malaysia membubarkan KAMI. Pada
tanggal 8 Maret 1966 Departemen Luar Negri yang di pimpin oleh Dr. Subandrio
diserang oleh pelajar dan mahasiswa.
Surat Perintah 11 Maret 1966, pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet
Dwikora yang disempurnakan yang
dikenal dengan nama “kabinet 100 menteri“.
Penyerahan Kekuasan. Pada tanggal 20
February 1967 presiden menandatangani surat penyerahan kekuasaan kepada
Pengemban Supersemar Jendral Soeharto. Pada kamis pukul 19.30 bertempat di
istana Negara dengan di saksikan oleh ketua presidium Kabinet Ampera dan para
Menteri, Presiden/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi ABRI Ir.Soekarno dengan
resmi menyerahkan kekuasaan kepada jendral Soeharto.
Pada tanggal 12 Maret 1967, Jendral Soeharto
dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Presiden RI. Dengan pelantikan Soeharto
sebagai presiden tersebut, secara lagal formal pemerintahan Demokrasi Terpimpin
yang kemudian dinamakan Orde Lama berakhir. Pemerintahan baru di bawah
kepemimpinan presiden Soeharto yang kemudian di sebut Orde Baru pun mulai
menjalankan pemerintahannya.
Bab 22 hlm 625-658, berjudul Masa Keemasan Orde Baru 1976, membahas tentang
Pada masa Orde Baru antara tahun 1975-1990 merupakan, bisa disebut dengan masa
keemasan Presiden Soeharto. Kemajuan-kemajuan segnifikan dari bidang kesehatan,
pendidikan dan ekonomi patut di apresiasi. Serta Program Keluarga Berencana
yang merupakan program tersukses pada waktu itu. Investasi besar-besaran pun
ditanam. Sehingga menghasilkan swasembada beras dan bahan pangan lainnya.
Kalaupun dibandingkan dengan zaman colonial Belanda dan Orde Lama, rezim sukses
memperbaiki, mengekploitasi dan mengembangkan Indonesia.
Bab 23 hlm 659-692,
berjudul Tantangan, Krisis Dan Keruntuhan Orde Baru, 1989-1998, membahas
tentang penyebab utama adanya krisis ekonomi berkaitan
erat dengan Instabilitas politik antara lain akibat adanya konflik
antara lembaga eksekutif (Presiden) dengan lembaga legislatif (DPR-RI),
yang akhirnya menimbulkan krisis konstitusi dan ketegangan politik
di masyarakat luas.
Instabilitas keamanan antara lain akibat adanya
konflik bernuansa sara di Ambon/ Maluku, Poso dan Sampit., adanya gerakan
separatisme GAM dan OPM serta meningkatnya perbuatan kriminalitas yang makin
sadis. Hal ini sangat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme adalah penyebab utama
timbulnya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sampai sekarang aparat Kejaksaan
Agung belum berhasil menuntaskan kasus korupsi penyalahgunaan dana BLBI. Hasil
pemeriksaan BPK tahun Anggaran 2000 di Departemen-departemen dan
lembaga-lembaga pemerintah termasuk di Bank Indonesia menunjukkan kecenderungan
peningkatan penyalahgunaan penggunaan keuangan negara oleh oknum-oknum
Pejabat/Aparatur Pemerintah.
Bab 24
hlm 693-731, berjudul Indonesia Reformasi, 1998-2004, membahas tentang
Munculnya gerakan reformasi dilatarbelakangi oleh terjadinya krisis
multidimensi yang dihadapi bangsa Indonesia. Semula gerakan ini hanya berupa
demonstrasi di kampus-kampus di berbagai daerah. Akan tetapi, para mahasiswa
harus turun ke jalan karena aspirasi mereka tidak mendapatkan jalan keluar.
Gerakan reformasi tahun 1998 mempunyai enam agenda antara lain suksesi
kepemimpinan nasional, amendemen UUD 1945, pemberantasan KKN, penghapusan
dwifungsi ABRI, penegakan supremasi hukum, dan pelaksanaan otonomi daerah.
Agenda utama gerakan reformasi adalah turunnya Soeharto dari jabatan presiden.
Berikut ini kronologi beberapa peristiwa penting selama gerakan reformasi yang
memuncak pada tahun 1998.
Demonstrasi Mahasiswa. Desakan atas pelaksanaan reformasi dalam kehidupan
nasional dilakukan mahasiswa dan kelompok proreformasi. Pada tanggal 7 Mei 1998
terjadi demonstrasi mahasiswa di Universitas Jayabaya, Jakarta. Demonstrasi ini
berakhir bentrok dengan aparat dan mengakibatkan 52 mahasiswa terluka. Sehari
kemudian pada tanggal 8 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa terjadi di Yogyakarta
(UGM dan sekitarnya). Demonstrasi ini juga berakhir bentrok dengan aparat dan
menewaskan seorang mahasiswa bernama Mozes Gatotkaca. Dalam kondisi ini,
Presiden Soeharto berangkat ke Mesir tanggal 9 Mei 1998 untuk menghadiri sidang
G 15.
Peristiwa Trisakti. Tuntutan agar Presiden Soeharto mundur semakin
kencang disuarakan mahasiswa di berbagai tempat. Tidak jarang hal ini
mengakibatkan bentrokan dengan aparat keamanan. Pada tanggal 12 Mei 1998 empat
mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta tewas tertembak peluru aparat keamanan
saat demonstrasi menuntut Soeharto mundur. Mereka adalah Elang Mulya, Hery
Hertanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan. Peristiwa Trisakti mengundang
simpati tokoh reformasi dan mahasiswa Indonesia.
Kerusuhan Mei 1998. Penembakan aparat di Universitas Trisakti itu
menyulut demonstrasi yang lebih besar. Pada tanggal 13 Mei 1998 terjadi
kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan di Jakarta dan Solo. Kondisi ini memaksa
Presiden Soeharto mempercepat kepulangannya dari Mesir. Sementara itu, mulai
tanggal 14 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Bahkan, para
demonstran mulai menduduki gedung-gedung pemerintah di pusat dan daerah.
Pendudukan Gedung MPR/DPR. Mahasiswa Jakarta menjadikan gedung DPR/MPR sebagai
pusat gerakan yang relatif aman. Ratusan ribu mahasiswa menduduki gedung
rakyat. Bahkan, mereka menduduki atap gedung tersebut. Mereka berupaya menemui
pimpinan MPR/DPR agar mengambil sikap yang tegas. Akhirnya, tanggal 18 Mei 1998
Ketua MPR/DPR Harmoko meminta Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden.
Pernyataan Harmoko itu kemudian dibantah oleh Pangab Jenderal TNI Wiranto dan
mengatakannya sebagai pendapat pribadi.
Untuk mengatasi keadaan, Presiden Soeharto menjanjikan
akan mempercepat pemilu. Hal ini dinyatakan setelah Presiden Soeharto
mengundang beberapa tokoh masyarakat seperti Nurcholish Madjid dan Abdurrahman
Wahid ke Istana Negara pada tanggal 19 Mei 1998. Akan tetapi, upaya ini tidak
mendapat sambutan rakyat.
Pengunduran Diri Presiden
Soeharto. Pada dini hari tanggal 21 Mei 1998 Amien Rais selaku
Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah menyatakan, ”Selamat tinggal pemerintahan
lama dan selamat datang pemerintahan baru”. Ini beliau lakukan setelah
mendengar kepastian dari Yuzril Ihza Mahendra. Akhirnya, pada pukul 09.00 WIB
Presiden Soeharto membacakan pernyataan pengunduran dirinya. Itulah beberapa
peristiwa penting menyangkut gerakan reformasi tahun 1998. Soeharto
mengundurkan diri dari jabatan presiden yang telah dipegang selama 32 tahun.
Beliau mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia.
Beliau kemudian digantikan B.J. Habibie. Sejak saat itu Indonesia memasuki era
reformasi.
Bab 25
hlm 732, berjudul indonesia sejak 2004, membahas tentang Indonesia menyelenggarakan pemilu presiden secara langsung pertamanya.
Megawati menyatakan pemerintahannya berhasil dalam memulihkan ekonomi Indonesia, dan pada 2004, maju ke Pemilu 2004 dengan harapan untuk terpilih kembali sebagai presiden.
Megawati menyatakan pemerintahannya berhasil dalam memulihkan ekonomi Indonesia, dan pada 2004, maju ke Pemilu 2004 dengan harapan untuk terpilih kembali sebagai presiden.
Ujian berat dihadapi Megawati untuk
membuktikan bahwa dirinya masih bisa diterima mayoritas penduduk Indonesia.
Dalam kampanye, seorang calon dari partai baru bernama Partai Demokrat, Susilo
Bambang Yudhoyono,
muncul sebagai saingan Megawati.
Partai Demokrat yang sebelumnya kurang
dikenal, menarik perhatian masyarakat dengan pimpinannya, Yudhoyono, yang
karismatik dan menjanjikan perubahan kepada Indonesia. Pemilihan putaran
pertama menyisihkan kandidat lainnya sehingga yang tersisa tinggal Megawati dan
SBY.
D.
KELEMAHAN DAN KELEBIHAN BUKU
KELEBIHAN
·
Ricklefs mengisahkan perjalanan bangsa Indonesia dari zaman
ke zaman yang penuh warna, lengkap dengan aneka persoalan dan pertikaian baik
internal maupun eksternalnya. Di balik struktur narasinya, buku ini menjawab
pertanyaan bagaimana komunitas-komunitas dari berbagai kepulauan Indonesia,
dengan rupa-rupa etnis, bahasa, dan dalam negara-negara kerajaan yang
terpisah-pisah, bisa bersatu menjadi sebuah bangsa modern.
·
M.C. Ricklefs menyuguhkannya Sejarah Indonesia Modern secara
mendasar sekaligus terperinci.
·
Ricklefs mencoba membuat sebuah buku teks sejarah Indonesia
yang berdasarkan sebuah narasi yang berdasarkan bukti sejarah yang rinci.
·
Ricklefs dalam karyanya ini telah memberikan gambaran yang
begitu jelas mengenai historiografi Indonesia, perjalanan sejarah Indonesia
yang dia tulis dengan rentang waktu yang begitu panjang dapat dia uraikan
secara kronologis dan tematis dengan menjelaskan narasi yang begitu menarik dan
ringan sehingga mudah dimengerti membuat karyanya ini patut menjadi acuan bagi
Mahasiswa dan Sejarawan yang mau meneliti tentang Indonesia karena banyak hal
yang terangkum baik politik, ekonomi, sosial dan budaya.
KEKURANGAN
·
Dalam bukunya,
Ricklefs menekankan bahwa sejarah Indonesia yang dia tulis secara sadar lebih
mengutamakan mengenai sejarah Jawa ketimbang luar Jawa. Alasan yang diambil
adalah: Jawa lebih banyak dikaji daripada pulau-pulau lain, Penduduknya
mewakili separuh dari rakyat Indonesia, Jawa menjadi pusat dari sejarah
politik baik masa kolonial dan kemerdekaan dan alasan pribadi,
dimana penelitian Ricklefs kebanyakan tentang Jawa.
sangat bermanfaat kak.
BalasHapuskak buku ini dapatnya darimana ya?
Di jogja ada ka
Hapus