Jumat, 16 September 2016

DUA FAKTA SEJARAH PARTAI ISLAM TIDAK BISA BERSATU dan MINANGKABAU PADA MASA DAHULU PERNAH MELAHIRKAN TOKOH-TOKOH NASIONAL

MENGANALISIS DUA FAKTA SEJARAH
1.      PARTAI ISLAM TIDAK BISA BERSATU
Partai Politik Islam sangat sulit untuk dipersatukan, karena Partai Politik Islam terlalu keras memperjuangkan egonya masing-masing, sulit menyatukan visi, misi dari masing-masing partai, serta adanya perpecahan yang terjadi di dalam partai tersebut dan juga ideologi politik yang dipahami dan dijalankan oleh partai Islam di Indonesia makin memudar disebabkan oleh adanya kebijaksanaan politik yang menyangkut segala urusan dan tindakan mengenai pemerintahan negara yang bukan diacukan pada asas Islam yang mendasari kumpulan konsep bersistem yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan partai Islam tersebut, melainkan diacukan pada asas pancasila yang merupakan juga dasar ideologi negara, ini sama halnya dengan ideologi partai-partai non Islam atau ideolopgi partai-partai yang berbasis bukan pada massa Islam.
Jika kembali ke sejarah, basis politik aliran Islam di Indonesia sejak era 1950-an  terbelah menjadi Islam reformis/modernis lalu berubah menjadi Partai Masyumi, sedangkan Partai Islam tradisionalis terpusat pada Nahdlatul Ulama (NU). 
Lahirnya PAN, adalah investasi politik dari organisasi Muhammadiyah. Begitu pula dengan partai PKB yang merupakan investasi di bidang politik organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Sementara PPP sendiri mencoba menyatukan para ulama dengan kembali ke rumah Ka’bah.  
Pada masa awal reformasi, parpol Islam terutama PKB dan PAN merengkuh suara yang sangat menjanjikan, karena dukungan penuh dari organisasi keagamaan. PAN dengan Muhammadiyah menjadi partai yang mampu mewarnai perpolitikan Indonesia di masa reformasi. Sosok Amien Rais turut serta menyumbang besar kebesaran PAN. Kemudian PKB juga meraih sukses besar atas dukungan basis Nahdlotul Ulama (NU) dengan sosok Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai tokohnya. PPP juga masih kokoh dengan basis dukungan loyalis yang terpusat pada tokoh-tokoh dan kyai-kyai di daerah.  
Namun, perlahan ketiga parpol Islam yaitu PAN, PKB, dan PPP yang memiliki basis dukungan yang besar mengalami penurunan dukungannya.Dukungan terhadap ketiga parpol Islam tersebut tergerus oleh peran partai nasionalis seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, PDI-P, NasDem, Partai Hanura, dan Partai Gerindra.
a)      Partai Amanat Nasional (PAN)  
PAN adalah partai Islam yang muncul di masa reformasi dibidangi oleh kader-kader Muhammadiyah, dan Muhammadiyah kemudian mewakafkan tokohnya yaitu Amien Rais untuk mengelola dan membesarkan PAN. Namun tahun demi tahun elektabilitas PAN layu, dimulai sejak Amien Rais tidak lagi menduduki jabatan ketua Umum.
Perpecahan internal PAN sumber awal dari penyebab PAN saat ini yang berjalan tertatih-tatih dalam panggung politik.  Telah terjadi perbedaan paham kebangsaan di internal PAN dan tidak bisa dikondisikan oleh pengurus hingga sekarang, tidak adanya titik temu antara petinggi Muhammadiyah dengan pengurus PAN. Dampaknya, kader-kader PAN berpindah haluan ke parpol lain, baik kader nasionalis yang progresif maupun reformis modernis.
b)     Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)  
Menurunnya elektabiltas PKB juga dimulai dari perpecahan internal, sejak tidak di bawah kendali Gus Dur PKB terombang-ambing kadernya tercerai berai.  Gus Dur yang dengan paham pluralisme mampu mendongkrak suara PKB pada awal berdirinya PKB.  
Selian itu, Gus Dur bersama PKB juga mendapatkan restu dari NU dan dukungan penuh dari kaum nahdliyin dengan jargonnya partai reformis, pro pada perubahan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.  
Berbeda dengan PKB sekarang yang cenderung eksklusif dengan hanya mengandalkan kader-kader NU dengan menutup diri dari kalangan semacam nasionalis dan Muhammadiyah atau lainnya. Ditambah lagi sistem keorganisasiannya yang keropos serta perseteruan dengan loyalis Gus Dur yang tidak kunjung membaik. PKB juga tidak mampu memelihara dan membina para kyai-kyai NU yang selama ini membesarkan PKB bahkan cenderung tidak peduli karena dinilai loyalis Gus Dur.
Dampaknya PKB menjadi parpol yang kehilangan arah dan berada dalam kebingungannya, langkah-langkah instan menjadi pilihan dengan merekrut tokoh nasional, artis, dan pebisnis untuk dijadikan alat dagangan politiknya.  
c)      Partai Persatuan Pembangunan (PPP)  
PPP sebagai partai religius mengalami elektabilitas yang terus menurun karena buruknya sistem kaderisasi dan keorganisasin yang dibangunnya. PPP dahulu menjadi besar karena bersatunya kaum religius dari lintas organisasi keagamaan.  
Basis dukungan PPP terpecah sejak masa reformasi dengan lahirnya PKB, dan PAN, PPP kehilangan para tokoh-tokohnya sehingga elektabilitasnya hanya mengandalkan pada loyalis PPP pada masyarakat tingkat bawah.  
PPP didukung oleh para loyalisnya yang sangat fanatis, selain itu juga beberapa kyai juga memberikan andil besar menjaga suara PPP.  Sayangnya, sistem kaderisasi dan keorganisasin PPP tidak berjalan dengan baik, sehingga banyak kader-kader PPP menyeberang ke parpol lain.
PPP tidak mampu mengurus dan mengelola dengan baik terhadap tokoh-tokoh tua yang selama ini membesarkan PPP.  Kaderisasi dan keorganisasin yang baik yang mampu menyatukan kembali para kyai-kyai dan loyalis untuk bersama-sama bersatu membesarkan PPP.
PPP sudah sepantasnya menjadi rumah kaum religius yang menyatukan berbagai paham aliran yang ada di Indonesia. Sebagaimana PPP di masa Orde Baru yang menjadi rumahnya para kaum religius muslim lintas organisasi keagamaan.
Dari paparan diatas terlihat Islam adalah agama, sulit untuk memasukkannya dengan kekuatan politik yang bergabung dengan Islam.





2.      MINANGKABAU PADA MASA DAHULU PERNAH MELAHIRKAN TOKOH-TOKOH NASIONAL
Orang Minang terkenal sebagai kelompok yang terpelajar, oleh sebab itu pula mereka menyebar di seluruh Indonesia bahkan manca-negara dalam berbagai macam profesi dan keahlian, antara lain sebagai politisi, penulis, ulama, pengajar, jurnalis, dan pedagang. Majalah Tempo dalam edisi khusus tahun 2000 mencatat bahwa 6 dari 10 tokoh penting Indonesia pada abad ke-20 merupakan orang Minang. 3 dari 4 orang pendiri Republik Indonesia adalah putra-putra Minangkabau. Kisah 3 pendiri tersebut juga diulas dalam beberapa buku, seperti Hatta, “Jejak yang Melampaui Zaman”, ia sang proklamator kemerdekaan bersama Soekarno, Sjahrir, “Peran Besar Bung Kecil”, ia perdana menteri pertama dan  Tan Malaka “Bapak Republik yang Dilupakan”, pendiri Partai MURBA, orang yang pertama merumus konsep NKRI. Berikut uraian jelasnya.
Setelah kemerdekaan, empat orang Minangkabau duduk sebagai perdana menteri (Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Abdul Halim, Muhammad Natsir merupakan Perdana Menteri ke-5 RI berasal dari Alahan panjang 1908, Agus Salim (Agam, 1884), mantan Menteri Luar Negeri RI), seorang sebagai presiden (Assaat), seorang sebagai wakil presiden (Mohammad Hatta), seorang menjadi pimpinan parlemen (Chaerul Saleh), Moh. Yamin (Sawahlunto, 1903), perumus teks Sumpah Pemuda dan Pancasila dan puluhan yang menjadi menteri, di antara yang cukup terkenal ialah Azwar Anas, Fahmi Idris, Rizal Ramli dan Emil Salim. Emil bahkan menjadi orang Indonesia terlama yang duduk di kementerian RI. Minangkabau, salah satu dari dua etnis selain etnis Jawa, yang selalu memiliki wakil dalam setiap kabinet pemerintahan Indonesia. Selain di pemerintahan, pada masa Demokrasi liberal parlemen Indonesia didominasi oleh politisi Minang. Mereka tergabung kedalam aneka macam partai dan ideologi, islamis, nasionalis, komunis, dan sosialis.
Beberapa partai politik Indonesia didirikan oleh politisi Minang. PARI dan Murba didirikan oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Mohammad Hatta, Masyumi oleh Mohammad Natsir, Perti oleh Sulaiman ar-Rasuli, dan Permi oleh Rasuna Said dari Maninjau, 1910, yang merupakan pejuang persesamaan laki-laki dan perempuan. Selain mendirikan partai politik, politisi Minang juga banyak menghasilkan buku-buku yang menjadi bacaan wajib para aktivis pergerakan.
Penulis Minang banyak memengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Mereka mengembangkan bahasa melalui berbagai macam karya tulis dan keahlian, seperti Marah Rusli, “Sitti Nurbaya”, (Padang, 1889, sastrawan Angkatan balai Pustaka), Abdul Muis, Idrus, HamkaTenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, (Maninjau 1908, Ketua Umum MUI), dan A.A NavisRobohnya Surau Kami”, (Padang 1924 berkarya melalui penulisan novel). Nur Sutan Iskandar novelis Minang lainnya, tercatat sebagai penulis novel Indonesia yang paling produktif. Chairil Anwar dan Taufik Ismail berkarya lewat penulisan puisi. Serta Sutan Takdir Alisjahbana dan Sutan Muhammad Zain, dua ahli tata bahasa yang melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi bahasa persatuan nasional
Selain melalui karya sastra, pengembangan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh jurnalis Minang. Mereka antara lain Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus. Selain Abdul Rivai yang dijuluki sebagai Perintis Pers Indonesia, Rohana Kudus yang menerbitakan Sunting Melayu, menjadi wartawan sekaligus pemilik koran wanita pertama di Indonesia.
Faktor yang menyebabkan orang-orang minangkabau melahirkan tokoh-tokoh nasional, karena keberhasilan dan kesuksesan orang Minang banyak diraih ketika berada di perantauan. Sejak dulu mereka telah pergi merantau ke berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga Philipina.
Faktor lain, karena dalam sistem “matrilinial”, ada disebut “Harta Pusaka Tinggi”, harta milik keluarga yang diperoleh turun temurun melalui garis ibu. Harta ini tidak boleh dijualbelikan, sangat terkecuali karena ada empat hal. Satu diantaranya “mambangkik batang tarandam” (membongkar kayu yang terendam). Maksudnya, hanya bisa jika biaya pesta tak ada untuk pengangkatan penghulu (datuk) atau biaya sekolah anggota kaum ke tingkat lebih tinggi.

Hal lain lagi, karena daerah Minangkabau memiliki banyak “nagari” — daerah otonom yang memiliki kekuasaan tertinggi — dipimpin sebuah dewan disebut “Karapatan Adat Nagari”. Faktor inilah pendorong dinamika masyarakat Minang untuk berkompetisi secara konstan untuk mendapatkan status dan prestise. Setiap kepala “nagari” berlomba meningkatkan status dan prestise keluarga kaumnya. Mendapatkan harta dan sekolah setinggi-tingginya.

1 komentar:

  1. Bolavita Agen Betting Bola Tangkas Online Terbesar & Terpercaya.. Cashback Special 10% Khusus Bola Tangkas Online...
    Bolavita Juga Menyediakan Semua Jenis Betting Online, Pasti'a Lengkap gan :) !!

    • Sabung Ayam
    • Togel Online
    • Judi Bola
    • Casino Online
    • Tembak Ikan
    • Poker Online
    • SLOT (Play1628)
    • WM Casino

    Semua Dapat Di Mainkan Via Android & iOs !!

    Hanya di www(.)bolavita(.)club

    BBM : BOLAVITA
    Line : cs_bolavita
    WA : 081377055002

    BalasHapus